Sering kali aku melihat
teman-teman ku yang baru hijrah atau postingan di akun-akun berbau agama yang
mana mereka sangat menekankan pria-pria yang taat ibadah menjadi kriteria
pasangan mereka. Mulai dari rajin sholat, dzikir, sedekah, sholat sunnah,
sampai ke memperhatkian penampilan yang terkesan islami. Mereka mentah-mentah “mendewakan”
pria-pria yang “terlihat” agamis. Menurut pandangan mereka, pria yang seperti
itulah yang sangat ideal untuk dijadikan pasangan, biasanya sih untuk dijadikan
seorang suami.
“Idaman bangettt sholat 5 waktu
ke masjid”
“duhhhh sunnah aja diperhatikan,
awwww”
“gila itu keren banget sih dia
bisa ngaji lancar gituuuuu”
Sebenarnya ga ada salahnya sih
ketika seseorang memasang standar untuk menjadikan kriteria pasangan, itu hak
masing-masing. Tapi yang mengganjal di sini adalah apa mereka gak sadar kalau
sholat 5 waktu, mengaji, bersedekah, and things like that itu bukan suatu hal
yang harus “didewakan”? I mean like… bukannya semua umat (konteksnya agama
islam) harus seperti itu ya? Tidak ada hal yang special dari pria yang sholat 5
waktu, pandai mengaji, dan bersedekah, baik kamu ataupun dia sudah harusnya
seperti itu. Jadi, letak istimewanya di mana? Get my point?
Kalau kita pakai konsep kosmologi
Tri Hita, pada dasarnya ajaran ini menekankan tiga hubungan manusia, yaitu
manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam sekitar, dan manusia dengan
Tuhan. Kita harus bisa selaras dengan konsep ini kalau ingin hidup sekaligus
menjadi manusia yang damai dan tentram. Jadi
ada sisi lain yang harus diperhatikan selain dari sisi hubungan dia dengan
Tuhan.
Kalaupun dia rajin beribadah tapi
hubungan dia ke manusia buruk gimana? Coba lihat berapa banyak kasus ustad yang
di pesantren yang melakukan pelecehan seksual terhadap santirnya? Atau cerita di akun
instagram ceriminan lelaki yang suaminya rajin ibadah tapi ke istri dan anak
sendiri kasar dan gak peduli bahkan berselingkuh?
Hal-hal kecil berdampak besar
yang sering kali dilewatkan untuk mengetahui apakah dia pria yang “pantas” atau bukan adalah
cukup perhatikan bagaimana dia di kehidupan sehari-hari. Bagaimana prilakunya
di keluarganya, bagaimana dia memperlakukan ibunya, bagaimana prilaku dia
terhadap teman-temannya, bagaimana dia memperlakukan lansia, bagaimana dia terhadap hewan, sampai bagaimana dia
bersikap ketika lagi emosi atau sedang berada di bawah tekanan.

Post a Comment