Orang-orang pada kenapa sih, ha?
Jadi, kemarin aku diskusi sama beberapa teman
ku dari berbagai latar belakang menganai perlu atau tidaknya sex before marriage. Berbagai
latar belakang di sini menurut ku cukup
beragam, ada yang religious, gaya hidup yang bebas, sampe orang yang netral. Diskusi
ini cukup berjalan lancar, hanya saja aku mengakhiri diskusi itu dengan cara
menjadi silent reader dikarenakan malas aja ngeladeni orang yang batu ahahahaha.
Ini berawal ketika part diskusi yang
dimulai dengan pertanyaan ku mengenai apakah virginity adalah hal yang penting
dalam sebuah pernikahan? Sebagian besar dari mereka menjawab tidak penting. Menurut
mereka, pernikahan itu adalah hal yang kompleks sehingga virginity bukanlah hal
yang utama, namun ada juga beberapa orang yang menjawab virginity itu penting
dan dia menstandarkan seseorang itu harus dalam keadaan virgin ketika ingin
menikah dengannya.
Di
sinilah ke-“ha”-an itu muncul. Hujatan dilontarkan sebagai respon terhadap
orang yang menganggap virginity itu hal yang penting.
“close minded lo!”
“keperawanan ga penting kali aelaah”
“perawan tapi ga bisa jadi istri yang baik buat apa?”
“pasti lo belom pernah ngueue kan? Gila lo hidup ngapain aja belom pernah ngueue!?”.
“close minded lo!”
“keperawanan ga penting kali aelaah”
“perawan tapi ga bisa jadi istri yang baik buat apa?”
“pasti lo belom pernah ngueue kan? Gila lo hidup ngapain aja belom pernah ngueue!?”.
Fak open minded open minded tai!
Wait, kenapa zaman sekarang itu saking
orang-orang mewajakan sex before marriage, ketika ada orang yang belum atau
tidak akan melakukan itu maka mereka akan dianggap aneh, kuno, cupu, bahkan close
minded. I feel like… cok open minded itu bukan sekedar do sex before marriage,
you drink, go to the club, or things like that. Emang kenapa kalau ada orang
yang menjadikan virginity sebuah standar? Kalau kita ibaratkan nih, kamu lulusan S2, terus kamu pasang standar mencari calon yang minimal lulusan S1, apa itu artinya kamu merendakhakn
mereka-mereka yang hanya lulusan sekolah? Engga kan? Mungkin kamu beralasan
kalau nanti akan adanya “gap” ketika kamu berbicara dengan orang yang hanya
lulusan bangku sekolah. Ya itu sah-sah saja. Banyak kok pdkt yang gagal hanya
karena “ga nyambung” kalo diajak ngobrol.
Hal yang sama ketika orang yang
menstandarkan virginity dalam sebuah pernikahan, bukan berarti mereka
menganggap rendah atau mendiskriminasi orang yang sudah tidak virgin lagi. Kalau
di case ini, mereka menggap penting karena mereka juga menjaga virginity
mereka, jadi sitilahnya sama-sama menjaga. Engga ada yang salah dari hal itu.
Yang salah adalah ketika kamu hobby celup sana sini tapi nyari yang masih
virgin dengan alasan suci belum pernah “dipake”. Jancok.
Lalu apakah mereka yang melakukan sex
before marriage itu adalah yang “keji?” ya engga juga. Tapi yang pasti di sini
mereka mengesampingkan nilai agama. Anggapan mereka yang menganggap bahwa sex bisa
menjadi salah satu cara yang bisa menimbulkan intimasi dalam suatu hubungan, harga
diri seseorang tidak diukur dari virginity, sampai sex ya sex, sex adalah
kegiatan hal yang manusiawi dan itu kebutuhan biologis manusia yang normal,
semua itu juga ga salah.
Apapun itu dan dari perspektif manapun
yang kalian lihat, intinya ya ini soal
sudut pandang. Kalau udah ngomongin sudut pandang, ya ga bisa
disamaratakan. Kamu ga bisa memaksakan standar mu ke orang lain. Pada akhirnya,
in my opinion, open minded itu adalah ketika kamu bisa menerima pendapat orang
lain tanpa harus merasa pendapat mu yang paling benar, tanpa harus judge
mereka yang prinsipnya bertentangan dengan prinsip mu, termasuk ketika kamu tidak setuju dengan postingan ini, ya sudah gapapa.
Prinsip itu terbentuk dari apa yang kamu lihat, apa yang kamu baca, apa yang kamu dengar, apa yang kamu alami, sampai kamu hidup di lingkungan yang seperti apa, semua itu terjadi selama bertahun-tahun sehingga terbentuk suatu kesimpulan yang bernama prinsip. Yang perlu digaris bawahi adalah, semua manusia yang exist di dunia ini memiliki alur hidup yang berbeda, jadi gabisa disamaratakan.
Prinsip itu terbentuk dari apa yang kamu lihat, apa yang kamu baca, apa yang kamu dengar, apa yang kamu alami, sampai kamu hidup di lingkungan yang seperti apa, semua itu terjadi selama bertahun-tahun sehingga terbentuk suatu kesimpulan yang bernama prinsip. Yang perlu digaris bawahi adalah, semua manusia yang exist di dunia ini memiliki alur hidup yang berbeda, jadi gabisa disamaratakan.

Post a Comment